Cerita Haru Ustaz Hilman Fauzi: Perjuangan Ibunda yang Tersungkur Hingga Menjadi Pendakwah Ternama
Radar Berita Global – Ustaz Hilman Fauzi termasuk salah sebagian kecil dari para pengajar agama yang biasanya menyebarkan pesannya dengan gaya santai serta bahasa yang halus. Dia dikenal sebagai ustaz generasi muda ini sering kali mengadakan diskusi yang disertai pula oleh berbagai bintang tanah air.
Ustaz kelahiran Garut, Jawa Barat itu mengakui jika, nyaris semua peserta kajiannya adalah perempuan. Tak sedikit dari mereka yang mencurahkan isi hati serta berbagi masalah domestik, ketika ustaz Hilman menggelar kajian. Sepertinya, tutur kata yang halus menjadi kunci ‘kesuksesan’ ustaz Hilman bisa dekat dengan jamaah perempuannya.
Sepertinya, berbicara dengan nada ringan dan lemah tidaklah mudah untuk berkembang hanya dalam sehari atau dua hari. Ustadz Hilman menegaskan bahwa dia bahkan belum pernah secara sengaja merencanakan penyetelan nadanya agar kedengaran halus. Justru, sikap sopan dan suara yang lembut tersebut dipelajarinya dari orang yang amat dihargainya, yakni sang ibunda.
Jika ditanyakan siapakah guruku yang mengajari A Hilman untuk berbicara darihati ke hati, the one and only , ibu saya,” kata ustaz Hilman saat jadi bintang tamu acara FYP Trans7.
Sejak kecil, ustaz Hilman sudah tinggal berdua dengan sang bunda. Ustaz Hilman menyebut jika sang ayah sudah pergi lebih dulu, bahkan saat ia masih sangat kecil. Meski dibersarkan oleh orangtua tunggal, ustaz Hilman tak pernah menyebut jika sang bunda gagal dalam mendidiknya.
"Sama seperti AR Affandi, saya diasuh oleh seorang ibu dengan kebaikan hati yang luas," ujar Ustaz Hilman.
"Jadi A Hilman ini ditinggalkan sang bapak sejak kecil, saya dibesarkan oleh ibu yang selalu berseri-seri dengan pendekatan hidupnya yang luar biasa," ujar Ustaz Hilman.
Betapa tidak, ustaz Hilman sudah menyaksikan sendiri kegigihan sang bunda menjadi tulang punggung keluarga, demi bisa membiayai Hilman kecil saat itu. Bekerja dari pagi buta sampai larut, dijalani ibunda ustaz Hilman, demi bisa membiayai putra kesayangannya itu sekolah.
"Kami tidak kaya dan memiliki segala sesuatu, ibuku adalah seorang pedagang di pasar tradisional," ujar Ustaz Hilman dengan percaya diri.
Oleh karena itu setiap pagi ibuku pergi ke pasar, lalu sore hari dia kembali dan mengganti pakaiannya sebelum akhirnya melakukan hal lain. ngider "Penjualannya di desa-desa," ujarnya sambil memancarkan ekspresi bangga.
Sepertinya, Hilman muda telah mengerti tentang arti kerja pada masa lalu. Karena tidak tega melihat ibunya berjuang keras dan terus-menerus dalam bekerja, Ustaz Hilman pernah menanyakan kabar ibunya. Jawaban dari sang ibu waktu itu begitu menyentuh bagi setiap orang yang mendengarnya.
Saat saya bertanya, 'Mama tidak lelah?' jawabannya adalah, 'Ya tentu saja lelah,'” ujar Ustaz Hilman merujuk pada percakapannya dengan ibunya.
"Ibuku berkata, 'supaya Hilman dapat melanjutkan pendidikannya','" ungkap sang ibu ketika itu kepada Ustaz Hilman.
"Mama tidak dapat memberikan harta kepada Hilman, tetapi Mama bisa mengajarkan ilmunya. Jika diberi harta, Hilman lah yang akan lelah menjaga hartanya, namun jika diberi ilmu, suatu saat ilumlah yang akan melindungi Hilman," ujar Ustaz Hilman sembari berkaca-kaca.
Menyaksikan sang bunda kerja keras untuk dirinya, Hilman kecil tak tinggal diam. Ia benar-benar tekun belajar, agar bisa mendapatkan pendidikan yang mumpuni, tanpa biaya besar. Usaha memang tak mengkhianati hasil, ustaz Hilman bertubi-tubi mendapatkan tawaran beasiswa untuk pendidikannya.
"Iya, dulu ibuku sempat mengatakan bahwa mamaku tidak bisa membayar biaya pendidikan, jika Hilman ingin melanjutkan ke bangku sekolah maka dia harus pandai, supaya mendapat beasiswa," jelas ibunya Ustaz Hilman.
"Alhamdulillah, mulai dari S1 hingga S3 semua berkat izin Allah didapatkan melalui beasiswa, tetapi bagaimana untuk biaya hidup sehari-hari? Saya mencoba mencari pekerjaan sambilan," jelasnya.
Kami telah ditertawakan, diperlakukan dengan tidak hormat, dan dicabut dari lingkungan kami saat menghadapi kesulitan dalam hidup. Untuk setiap tantangan yang ada, mari bersabar, karena suatu hari nanti kita akan menemukan keindahan dari pengalaman-pengalaman tersebut.
“Sekarang lagi dikasih amanah sama Allah untuk sampaikan pesan dari hati ke hati (menjadi seorang pendakwah),” kata ustaz Hilman santun. (*)
Posting Komentar