Militer Myanmar Larang Wartawan Asing Liput Bencana Gempa
Radar Berita Global , Jakarta - Junta militer Myanmar telah melarang masuknya media asing yang ingin meliput daerah yang dilanda gempa Bumi di negera tersebut. Jumlah korban meninggal terus bertambah sampai melampaui angka 1.700 jiwa.
Dilansir dari NDTV, Junta sudah menerapkan batas-batasan, mengklaim bahwa hal ini disebabkan oleh masalah penginapan, pemutusan suplai listrik, serta ketersediaan air yang terbatas. " Jurnalis asing ) tidak mungkin datang, tinggal, mencari tempat berteduh, atau berpindah-pindah di sini. Kami ingin semua orang memahami hal ini," kata Zaw Min Tun, juru bicara rezim, dalam pernyataan audio yang dikeluarkan pada Minggu, 30 Maret 2025.
Wartawan lokal di Myanmar pun mengalami berbagai batasan yang ketat. Tindakan penolakan atas masuknya media luar negeri menciptakan keraguan besar akan keterbukaan respon militer dalam menghadapi bencana itu.
Sejumlah pihak menyatakan bahwa junta mencegah bantuan humaniter sampai ke wilayah-wilayah yang terkena dampak namun tak sepenuhnya di bawah kontrol mereka. Mulai dari kudeta pada tahun 2021, saat militer mendepremasi rezim terpilih yang juga pemegang Hadiah Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi, Myanmar sudah masuk tahap perang saudara melawan beberapa gerakan lawan bersenjata.
Pada saat bersamaan, sejumlah laporan dari media mengindikasikan bahwa rezim militer masih mempertahankan serangan udaranya di berbagai daerah negara yang sedang dilanda konflik dan musibah. Berdasarkan hal ini, banyak elemen dalam komunitas internasional mendesak agar diberikan izin tak terbatas kepada petugas bantuan serta jurnalis independen untuk masuk. Sebabnya, situasi humaniter semakin parah akibat guncangan gempa dengan magnitudo 7,7 skala Richter yang merenggut korban jiwa dan menyebabkan hancurnya infrastruktur secara luas di seluruh negeri, seperti dilansir oleh portal media Myanmar Now.
Myanmar Now menyatakan bahwa pada tahun 2023, fotografer Sai Zaw Thaike diringkus ketika menuturkan pengaruh Topan Mocha. Setelah itu, ia divonis menerima hukuman selama dua puluh tahun kurungan bawah tanah.
Kira-kira 1.700 jiwa meninggal dunia, 3.400 lainnya luka-luka, serta 300 lagi belum ditemukan karena guncangan besar yang melanda Myanmar, demikian dilaporkan Badan Administratif Negaranya pada hari Ahad kemarin.
Kementerian Cuaca dan Air Myanmar menerangkan bahwa sebanyak 36 getaran lanjutan, dengan intensitas mulai dari 2,8 sampai 7,5 skala richter, telah diamati hingga hari Senin di awal paginya. Getaran-getaran ini merupakan akibat langsung dari gempa besar berskala 7,7 SR yang mengejutkan negara itu pada jam 12:51 sore waktu lokal, kemarin Jumat.
Episentrum guncangan tersebut berlokasi kurang lebih 20 kilometer dari Mandalay, kota terpopuler kedua yang memiliki populasi mencapai 1,5 juta jiwa. Badan Nasional untuk Penyelamatan Dalam Mengerjakan Krisis sudah menetapkan status darurat di semua wilayah Sagaing, Mandalay, serta Magway, area timur laut Provinsi Shan juga termasuk, pusat pemerintahan Nay Pyi Taw, dan daerah Bago.
Posting Komentar